JAKARTA – Perekonomian Provinsi DKI Jakarta mencatat pertumbuhan sebesar 5,87 persen pada triwulan III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi ibu kota tetap tumbuh positif di tengah dinamika perekonomian nasional dan global.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, Kadarmanto, menyampaikan bahwa nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta atas dasar harga berlaku mencapai Rp1.069,06 triliun. Sementara itu, berdasarkan harga konstan 2010, nilainya tercatat sebesar Rp596,33 triliun.
“Pada triwulan III tahun 2026, dibandingkan triwulan III tahun 2025, ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 5,87 persen secara tahunannya,” kata Kadarmanto di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Dari sisi lapangan usaha, perdagangan besar dan eceran masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Jakarta, yakni mencapai 18,12 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor konstruksi sebesar 11,17 persen dan industri pengolahan sebesar 10,94 persen.
Sektor konstruksi turut menunjukkan perkembangan seiring meningkatnya pembangunan gedung dan infrastruktur. Sejumlah proyek transportasi massal, seperti pembangunan Lintas Raya Terpadu (LRT) Velodrome-Manggarai dan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta Fase 2A, menjadi bagian dari aktivitas yang mendorong sektor tersebut.
Sementara itu, dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi justru dicatatkan sektor jasa keuangan dan asuransi yang mencapai 10,86 persen. Berikutnya, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 9,57 persen, sedangkan jasa lainnya meningkat sebesar 8,31 persen.
Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,86 persen. Peningkatan tersebut menunjukkan adanya penguatan aktivitas perdagangan barang dan jasa yang menjadi salah satu penopang ekonomi Jakarta.
Secara triwulanan, perekonomian Jakarta pada periode Juli hingga September 2026 tumbuh sebesar 0,36 persen dibandingkan triwulan II 2026. Adapun secara kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026, ekonomi Jakarta tumbuh 5,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian pertumbuhan tersebut turut memperkuat posisi Jakarta sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi nasional. Pada triwulan III 2026, kontribusi Jakarta terhadap perekonomian nasional tercatat mencapai 16,09 persen, tertinggi dibandingkan provinsi lainnya.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya dilihat dari besarnya nilai PDRB, tetapi juga perlu diikuti pemerataan manfaat bagi masyarakat. Peningkatan aktivitas perdagangan, jasa, konstruksi, dan industri diharapkan dapat memberikan dampak terhadap penciptaan lapangan kerja serta peningkatan pendapatan warga.
Dengan pertumbuhan 5,87 persen, perekonomian Jakarta menunjukkan kinerja positif pada triwulan III 2026. Ke depan, keberlanjutan pembangunan infrastruktur, penguatan sektor usaha, serta peningkatan daya beli masyarakat menjadi sejumlah faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ibu kota.
