SIAK – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mulai mengupayakan revitalisasi dua bangunan bersejarah di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, yakni Istana Siak Asserayah Al-Hasyimiah dan Balairung Sri. Program tersebut didukung anggaran dari pemerintah pusat melalui APBN Tahun Anggaran 2026.
Revitalisasi ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan dan pelestarian warisan sejarah serta kebudayaan Melayu yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Riau dan Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Siak sebelumnya memastikan kedua bangunan tersebut akan mendapatkan dukungan pendanaan dari pemerintah pusat. Langkah ini dilakukan setelah rencana revitalisasi yang semula mengandalkan APBD mengalami penundaan akibat kebijakan efisiensi anggaran daerah.
Bupati Siak Afni Zulkifli menyampaikan bahwa dukungan APBN menjadi solusi agar upaya pelestarian bangunan bersejarah tetap berjalan.
“Tahun ini insyaallah kita akan memulai revitalisasi Istana dan Balairung Sri dari APBN. Ini ikhtiar kita agar pembangunan daerah tetap bisa berjalan dengan baik,” ujar Afni.
Berdasarkan informasi anggaran yang disampaikan dalam pembahasan bersama pemerintah daerah, dukungan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2026 dari Kementerian Kebudayaan mencapai Rp5,5 miliar. Dana tersebut terdiri atas Rp3 miliar untuk revitalisasi Istana Siak dan Rp2,5 miliar untuk Balairung Sri.
https://sigapnews.co.id/+1
Anggaran tersebut diprioritaskan untuk penanganan darurat, penyelamatan konstruksi bangunan, penyusunan Detail Engineering Design (DED), jasa pengawasan, serta manajemen proyek. Dengan demikian, pendanaan awal tersebut belum mencakup seluruh kebutuhan pemugaran secara menyeluruh.
Istana Siak Asserayah Al-Hasyimiah merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang memiliki nilai sejarah dan arsitektur penting. Bangunan ini menjadi salah satu ikon kebudayaan Melayu sekaligus menyimpan berbagai koleksi peninggalan kerajaan.
Sementara itu, Balairung Sri juga memiliki nilai historis sebagai bagian dari warisan kebudayaan dan tradisi Kesultanan Siak. Kedua bangunan tersebut telah mendapatkan pengakuan sebagai museum dengan peran penting dalam menjaga koleksi serta jejak sejarah daerah.
ANTARA News Riau+1
Pemerintah Kabupaten Siak juga berharap revitalisasi tidak hanya memperbaiki kondisi fisik bangunan, tetapi turut memperkuat fungsi edukasi, penelitian, dan pariwisata sejarah. Pelestarian tersebut dinilai penting agar generasi muda tetap dapat mengenal perjalanan sejarah dan kebudayaan Melayu.
Di sisi lain, anggota Komisi X DPR RI Karmila Sari turut mendorong adanya tambahan anggaran sebesar Rp9 miliar agar pemugaran Istana Siak, Balairung Sri, dan Tangsi Belanda dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Melalui dukungan pemerintah pusat dan koordinasi dengan pemerintah daerah, revitalisasi diharapkan dapat berjalan sesuai kaidah pelestarian cagar budaya. Dengan demikian, warisan sejarah Kesultanan Siak dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
